Berusaha keras maka kamu akan mendapatkan hasil maksimal, kalimat seperti itu tentu sudah tidak asing karena sering disampaikan untuk memberi motivasi. Namun, ternyata ada perbedaan yang cukup besar antara berusaha keras dengan menyiksa diri.
Kedua hal itu mungkin terlihat mirip, tetapi jika dilihat lebih dalam, keduanya memiliki dampak yang sangat berbeda pada kesejahteraan diri. Berikut adalah beberapa perbedaan mendasar yang dapat membantu kita untuk lebih bijak dalam menghadapi tantangan hidup.
1. Perbedaan Tujuan :
Bekerja keras berarti kita menetapkan tujuan yang jelas & realistis. Tujuan ini dapat dicapai dengan kerja keras, tetapi tetap mempertimbangkan kapasitas kita. Seseorang yang berusaha keras tahu kapan & bagaimana cara untuk mencapai tujuannya tanpa menempatkan dirinya dalam kondisi yang merugikan.
Sebaliknya, jika terdapat tujuan yang terlalu tinggi atau tidak realistis, tujuan yang bersifat memaksa, harus berhasil dengan cara apapun adalah bentuk penyiksaan diri. Hal itu dapat menyebabkan rasa frustasi & rasa tidak puas meski sudah berusaha maksimal.
2. Perbedaan Intensitas : 
Dalam berusaha keras, kita bekerja dengan intensitas yang sesuai dengan kemampuan, memperhatikan kebutuhan fisik & mental. Kita tahu kapan harus mempercepat langkah kerja & kapan harus mengambil jeda istirahat.
Namun jika usaha yang dilakukan intensitasnya berlebihan tanpa memperhatikan batas kemampuan maka itu disebut menyiksa diri. Tak jarang eseorang yang menyiksa diri terus menerus malah justru mendapatkan kerugian berupa gangguan kesehatan fisik & mental.
3. Dampak Pada Diri :
Berusaha keras dapat meningkatkan motivasi & rasa percaya diri. Ketika kita berhasil mengatasi tantangan, kita merasa puas & termotivasi untuk terus berkembang. Kemenangan kecil ini menjadi pendorong untuk terus maju.
Namun, menyiksa diri malah membawa dampak sebaliknya. Stres, kelelahan & kecemasan akan muncul karena terlalu banyak tekanan yang kita berikan pada diri sendiri. Alih-alih merasa lebih baik, kita malah merasa tertekan & cemas tentang kegagalan.
4. Titik Berat :
Orang yang berusaha keras mampu mengakui kemajuan yang telah dicapai, meskipun itu mungkin kecil. Mereka merayakan setiap langkah menuju tujuan mereka dan memahami bahwa proses itu penting.
Sebaliknya, mereka yang menyiksa diri cenderung fokus hanya pada kekurangan atau kegagalan, bahkan jika mereka telah berusaha keras. Mereka sering kali merasa tidak cukup baik, yang akhirnya menurunkan rasa percaya diri & semangat.
5. Keseimbangan
Keseimbangan adalah kunci untuk berusaha keras yang sehat. Orang yang berusaha keras mengatur waktu untuk bekerja, istirahat & menikmati hidup. Mereka memahami bahwa untuk memberikan yang terbaik, mereka perlu menjaga kesehatan fisik & mental.
Di sisi lain, menyiksa diri berarti mengabaikan keseimbangan. Terlalu memaksakan upaya tanpa memperhatikan kebutuhan jeda istirahat. Dalam jangka panjang, hal seperti itu malah mengurangi produktivitas.
Kesadaran Dengan Bantuan Aroma
Terkadang, ketika kita merasa terjebak dalam rutinitas yang melelahkan, sedikit waktu untuk diri sendiri dapat membantu menyegarkan pikiran. Termasuk dengan bantuan penggunaan parfum bisa membuat pikiran menjadi lebih tenang & memperjelas kesadaran.
Parfum dengan pilihan aroma citrus atau floral yang menyegarkan dapat membantu mengurangi stres & memberi rasa relaksasi. Dengan aroma yang tepat, kita bisa mendapatkan kesadaran diri, tahu kapan kita harus berusaha keras & kapan harus memberi jeda.
Menyemprotkan parfum pada pagi hari dapat memberikan efek penyegaran & penambahan energi. Sedangkan setelah bekerja, aroma parfum dapat memberi efek relaksasi & membawa kita kembali pada kesadaran.
Kesimpulan
Meskipun berusaha keras & menyiksa diri sama sama melibatkan upaya yang besar, namun keduanya sangat berbeda dalam hal tujuan, intensitas, akibat & keseimbangannya. Kita tentu ingin mencapai tujuan yang diimpikan, tetapi juga penting untuk melakukannya dengan cara yang sehat & bijaksana supaya memberikan hasil yang riang gembira.
Ttd
Pedjoeang Wangie


